RS Indonesia di Gaza

RS Indonesia di Gaza
Foto: Video yang diunggah melalui Instagram memperlihatkan tentara Israel menyerang area sekitar rumah sakit Indonesia di Gaza. Sejauh ini 12 kematian telah dilaporkan akibat serangan itu. (Tangkapan layar Instagram @eye.on.palestine)

Donny Syofyan
Ia mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalusia

JurnalPost.com – Departemen Luar Negeri secara terbuka membela rumah sakit Indonesia di Gaza terhadap tuduhan Israel bahwa mereka mengaitkan fasilitas medis yang didanai swasta tersebut dengan Hamas, kelompok yang melancarkan serangan mendadak terhadap Israel pada 7 Oktober. Itu adalah keputusan yang tepat dari Kementerian, meski sangat terlambat.

Pada konferensi pers dengan wartawan asing, juru bicara militer Israel Daniel Hagari mengatakan bahwa Hamas telah membangun jaringan terowongan di bawah rumah sakit Indonesia. Jadi, menurut Israel, rumah sakit ini menyembunyikan kubu bawah tanah Hamas. “Hamas secara sistematis membangun rumah sakit di Indonesia untuk menyamarkan infrastruktur teroris bawah tanahnya,” kata Hagari.

Kami mendukung langkah Menteri Luar Negeri Retna Marsudi untuk mempertahankan rumah sakit tersebut karena kerja kemanusiaan yang telah dilakukan di Gaza. Rumah sakit ini awalnya dibangun dengan skema crowdfunding, pihak swasta kemudian ikut serta dalam pembangunan rumah sakit tersebut sebagai bukti nyata kontribusi Indonesia terhadap bangsa Palestina.

Indonesia konsisten mendukung perjuangan kemerdekaan rakyat Palestina melalui solusi dua negara. “Rumah Sakit Indonesia di Gaza merupakan fasilitas yang dibangun oleh masyarakat Indonesia khusus untuk kepentingan kemanusiaan dan memberikan kebutuhan medis kepada warga Palestina di Gaza,” kata Kementerian Dalam Negeri dalam keterangannya, Senin (6/11). Otoritas Palestina menjalankan rumah sakit tersebut dengan bantuan beberapa relawan Indonesia.

Sayangnya, terdapat persepsi luas mengenai keengganan pemerintahan Presiden Jokowi untuk mengakui kontribusi rumah sakit. Sebab, organisasi di baliknya, Emergency Medical Assistance Committee (MER-C), bukan pendukung pemerintah. Kurangnya pengakuan pemerintah terhadap kerja kemanusiaan rumah sakit hanya akan melemahkan kebijakan luar negeri Indonesia, mengingat pemerintah membutuhkan bantuan dari sektor swasta, masyarakat dan individu untuk memenuhi kewajiban internasionalnya.

Sejak serangan Hamas tanggal 7 Oktober, yang segera dibalas oleh Israel dengan operasi militer skala besar, rumah sakit Indonesia telah menjadi pusat perhatian media internasional. Hal ini diliput oleh saluran TV terkemuka seperti CNN, BBC dan Al Jazeera, serta kantor berita dunia seperti Reuters, AFP, AP dan Bloomberg. Masyarakat Indonesia patut berbangga atas kerja kemanusiaan rumah sakit, serta dedikasi para tenaga medis dan relawan.

Beberapa hari lalu, seorang dokter Palestina lulusan Universitas Negeri (UNS) Surakarta, Jawa Tengah, dikabarkan tewas dalam serangan udara Israel terhadap sebuah rumah sakit pada 11 Maret. Indonesia bukanlah negara kaya, namun kelompok seperti MER-C berhasil memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan rakyat Palestina di tengah minimnya fasilitas kesehatan di Gaza, bahkan sebelum perang pecah. Aktor non-negara dapat melengkapi dan mendukung diplomasi negara serta menuntut keadilan bagi rakyat Palestina dan diakhirinya pendudukan Israel atas tanah mereka yang telah berlangsung selama lebih dari 70 dekade. Kontribusi Indonesia terhadap Palestina, termasuk bantuan pembangunan senilai $7 juta beberapa tahun yang lalu, tidak dapat menandingi kontribusi negara-negara Arab yang kaya minyak.

Meskipun demikian, kita bisa bangga atas dukungan kita yang tak tergoyahkan terhadap Palestina, sementara beberapa negara Arab telah memilih untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel dengan mengorbankan Palestina. RS Indonesia di Gaza menjadi bukti konsistensi Indonesia dalam membela hak-hak rakyat Palestina. Fasilitas kesehatan tersebut berlokasi di Jabaliya dan melayani populasi sekitar 500.000 jiwa. MER-C menerima USD 9 juta dari Indonesia pada tahun 2011 untuk membangun rumah sakit tersebut. Pemerintah Gaza menyumbangkan 16.000 meter persegi tanah untuk rumah sakit tersebut dan membayar gaji sekitar 400 petugas kesehatan di sana.

MER-C terus memasok pasokan medis ke rumah sakit. Sebelum perang, rumah sakit tersebut merawat lebih dari 250 pasien setiap hari. Wakil Presiden Jusuf Kalla meresmikan rumah sakit tersebut pada tahun 2016 dan menggambarkan rumah sakit tersebut sebagai “simbol kerja sama” antara kedua negara. MER-C dan aktor-aktor non-pemerintah lainnya layak mendapat pengakuan atas kerja luar biasa mereka di Palestina. Kami berharap kerja sama antara pemerintah dan kelompok kemanusiaan non-pemerintah terus berkembang demi kebaikan Indonesia dan Palestina.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *